Minggu, 26 Februari 2012

Puisi - Bencana

Bencana
By Rafa J

Sepasang mata bening
Menatap dengan nanar
Pemandangan itu,
Ah, siapa yang kan tahan
Anak-anak menangis
Remaja-remaja menjerit
Porak-poranda
Ah, siapa yang kan tega
Dimanakah penyelamat itu
Dimanakah bantuan
Sang cinta kasih
Segala itu lenyap tak berbekas
Hilang ditelan udara
Hanyalah sepasang mata
Bening menatap
Tanpa bisa melakukan
Pengharapan
Akankah kau tunjukkan jalan?
Kebebasan
Akankah kau menjemput?

Kamis, 23 Februari 2012

Puisi - Kasih Masih Ada (Kelompok Bunga MELATI ~ Agama)

Kasih Masih Ada
Oleh Dennis dan Angela dari kelompok Bunga Melati – Agama
Dibacakan oleh Victor Hugo dan Keshia

Kasih,
Dimanakah dirimu?
Hidupku hancur tanpa campur tanganmu...
Entah,
Apa lagi yang akan terjadi di dunia ini,
Tanpa kehadiranmu...

Namun nyataya,
Ia hadir...
Ditengah -tengah kita...
KasihNya yang mulia,
Uluran tanganNya,
Menyatukan kita semua...
Dan menyadarkan kita,
Bahwa kasih masih ada...
*~Jangan pernah putus asa untuk selalu melakukan sesuatu yang baik, karena KASIHmu adalah HARAPAN dan BERKAH bagi sesamamu.

Senin, 13 Februari 2012

Cerbung - Be Yourself, Kak! ~ Final Part

Be Yourself, Kak! ~ Part 3
“Woooh... Nantang ya lo?! Sini gue hajar lo!!” Si ‘Bos’ melangkah maju, hendak meninju wajahku. “JANGAN LO SENTUH ADIK GUE!” Kakak tiba-tiba muncul dari balik semak dan berjalan ke antara aku dan anak-anak kelas tiga tadi. Aku heran sekaligus tertegun. Ternyata kakak mencariku dahulu sebelum pulang, memastikan aku sudah menuju ke rumah. Tiap hari ia melakukan itu, meskipun kami sedang bertengkar.“Kok kakak tahu Rian disini?” Tanyaku pada kakak. “Firasat kakak bilang kamu bakalan kenapa-napa. Kakak nggak bakal biarin kamu disakitin.Makanya kakak cari kamu sampai ketemu. Kakak sampai keliling sekolah tiga kali tadi.” bisiknya, membuatku semakin tertegun. “Oh jadi lo tuh adiknya Richard comberan, ya? Pantesan aja, sama-sama kurang ajar!” anak bertato yang daritadi belum bicara mengejek kakak dan aku.
“Apa hak lu ngatain kakak gue comberan, hah?!” Tanganku mengepal. Kakak memelototiku, berusaha menghindari pertengkaran. “Rian, Toni, ayo pergi.” “Lu kira secepet itu, Chard?” Si ‘Bos’ memotong perkataan kakak. “Lu pikir setelah geng busuk lo itu berkuasa lu bakalan dihormatin semua orang, gitu? Bah, perintis utama geng The BadBoys. Ketuanya, pula! Lo nggak akan bisa keluar dari sini sehat-sehat setelah mempermalukan geng gue!” Bos mengakhiri pidatonya. “KAKAK! AWAS!” Teriakku terlambat. Sebuah pukulan lebih dulu melayang ke wajah kakak. Tahangku mengatup serapat-rapatnya. Aku sayang pada kakakku meskipun aku masih marah padanya. “Rian...“ Toni berusaha menghiburku. “Kak Richard... Kakakku... “ Gumamku sedih.
“Ari, Ringkus mereka, yok!” Seorang anak yang paling pendek disana mengajak si anak bertato tadi, yang bernama Ari, untuk meringkusku dengan Toni. “Sep! Biar pada diem!” Ari setuju. Tanpa banyak bicara lagi mereka mengunci tanganku dan tangan Toni di belakang, membuat kami tak dapat berkutik.Rahang kakak mengatup keras, tanda bahwa ia marah. “Lepasin adik gue! Lepasin Toni! Urusan lo  itu sama gue, jadi jangan lo sakitin mereka!” Bentaknya pada Ari dan temannya yang meringkus Toni. Aku tertegun melihat usaha kakak untuk membela diriku, Toni, dan harga dirinya. Padahal Toni bukan siapa-siapa baginya. Apalagi aku... Adik kurang ajar yang pernah berkata tidak mau mengakuinya sebagai kakak.
“Tenang aja, mereka nggak bakalan diapa-apain, kok. Tapi elo... bakalan gue bikin sekarat!” Kata  si ‘Bos’ tadi. Kakak menatapku. Aku berusaha tersenyum, namun Ari mencengkeram lenganku lebih keras lagi, sehingga senyumku itu berubah  menjadi ringisan. “ARI! JOVAN! CUKUP! LEPASIN ADIK GUE DAN TONI!” Kakak benar-benar marah sekarang. “Lu kira segampang itu?” BUKK!! Tinju kakak mendarat mulus di wajah si ‘Bos’, memotong ucapannya. “Tutup mulut lo! Dasar keparat lo, Bram! ” Maki kakak. Langsung, si ‘Bos’ yang bernama Bram tadi dan kedua temannya yang lain menghajar kakak habis-habisan. Tanganku mengepal. ‘Bagaimanapun juga dia kakakmu! Kamu tetap tidak boleh mengucapkan kalimat seperti itu kepadanya! Kalau nggak ada kakakmu siapa yang mau menolong kamu? Kamu itu seharusnya bangga... bla bla bla... ’ Kata-kata papa sewaktu memarahiku dan kakak terngiang kembali dalam kepalaku. Aku merasa menyesal sekali telah bertengkar dengan kakak.
Lima menit berlalu sudah. Saat Ari lengah, aku menginjak kakinya sekuat-kuatnya. “ADUH!” Erangnya sambil meloncat ke belakang. Karena kesakitan, refleks ia juga melepas kunciannya pada tanganku. Aku segera melepaskan diri dan menerjang kakak, untuk menyelamatkannya dari serangan berikutnya. “RIAN! BEGO! Kamu ngapain?! Mau cari bogem nyasar atau gimana?!” Kakak memarahiku. “KAKAK tuh yang bego! Rian mau tolongin kakak! Gak apa-apa ngadepin bogem, yang penting kakak selamat!” Aku membalas bentakannya.
“AWAS!” Peringatan kakak tepat pada waktunya. Aku berhasil menghindari pukulan dari Ari, yang entah sejak kapan berada didekatku. “BANCI LO SEMUA! Beraninya keroyokan doang!” Ledekku pada kakak-kakak kelas itu. Aku mengakhiri perkataanku dengan sebuah tendangan mulus dari sepatuku yang berlumpur untuk Bram, yang mencium wajahnya tanpa dapat dicegah. Keempat anak itu tersulut kemarahannya akibat ledekanku dan tendangan untuk ‘Bos’ mereka. “Mampus aja lo karena berani ama kita!” Ari menghardik. “Ayo kita lihat, siapa yang sebenarnya pantas kena karma!” Tantangku berani, menatap wajah mereka satu persatu.
“Ayo, Ri. Tunjukin kekompakan kita...” Kakak mengomando. Aku dan kakakku langsung membantai keempat anak tadi dengan segenap kemampuan. Kakak seolah disuntikkan kekuatan tambahan karena aku membantunya. Kami berhasil memberikan perlawanan setimpal, bahkan mendesak mundur kakak-kakak kelas itu. Tiba-tiba... “RIAAAN!!!” Teriak Toni panik. Aku menoleh cepat, namun tidak lama karena Ari dan temannya tetap menghujaniku dengan pukulan dan tendangan. Ternyata Jovan, anak yang masih meringkus pergelangan tangan Toni, memerhatikan keterdesakan teman-temannya. Ia meraih penggaris besi dari tas slempang Nike-nya dengan satu tangan, tanpa mengendurkan kuncian tangan kanannya pada pergelangan Toni. Toni panik karena penggaris besi itu mengancam lehernya.
Aku mundur menyerong kearah Toni perlahan-lahan, lalu melakukan gerakan secara tiba-tiba, melempar penggaris besi dari tangan Jovan ke semak-semak. “Aaahh! Sssshh... ” Desisku, menahan pedih di tangan kiriku yang sekarang robek karena penggaris tajam tadi. “RIAN! Ahh!” Wajah kakak terkena tendangan dari Bram saat lengah menengok padaku. Toni terbebas sesaat, namun Ari dan Jovan meraih lengannya kembali, menyeretnya dan mengunci pergelangan tangannya pada sebatang pohon, siap menjadikannya samsak hidup.
Jovan hendak memukul Toni yang sudah menunduk ketakutan ketika... “AARGHH!!!” Kakak menjerit sejadi-jadinya, kesakitan. Ia melemparkan diri ke hadapan Toni untuk melindunginya, sehingga pukulan dari Jovan mengenai ulu hatinya. “ KURANG AJAR!” Teriakku, memaki Jovan. Aku menonjok wajahnya dengan marah. “Anjrit, Bos! Satpam!” Anak yang memakai jaket biru tua tadi memperingatkan kawan-kawannya. “Awas lo nanti! Gue bales lo! Udah, Jov! tinggalin aja ini anak, biarin dia berurusan sama satpam.” Ancam Bram padaku sebelum memberi perintah pada kawan-kawannya untuk segera pergi.
“Kak Richard! Kakak nggak apa-apa, kan?” Aku langsung berlari menghampiri kakakku yang masih memegangi ulu hatinya, kesakitan. Kakakku menggeleng. “Sakit banget... Ri... Kakak... Nggak... Bisa berdiri!” Ujar kakak tersengal. “Hei! Siapa disana?” Seorang satpam yang tadi dilihat oleh salah satu teman Bram mendekati tempat kami berada. “Gimana nih, kak?” Aku berpaling cemas pada kakak. “Gak tahu... Sakit, Ri... Kakak... Nggak bisa... Berdiri...” Kakakku masih mengeluh kes akitan sambilmemegangi bagian ulu hatinya yang tertonjok tadi. “Udah, gue aja yang ngomong, Ri.” Toni menghampiri  satpam tersebut. “Tapi mereka nggak boleh tahu sampai detail! Nanti bisa runyam kasusnya...” Aku memperingati Toni. “Pastilah, Ri. Hehehe...” Toni nyerngir kuda. “Okedeh. Goodluck bohongin satpamnya.” Aku tersenyum kecil. “Oya, sekalian bawain tas kita, ya?” Toni mengacungkan jempolnya.
Aku berusaha memapah kakak dengan bahu kiri, dan berjalan perlahan menghindari pandangan satpam tadi, takut dicuraigai macam-macam karena keadaan kami yang luka dan kotor. “Rian?!” Aku terlonjak kaget mendengar sebuah suara memanggilku dari arah gedung. “Daniar?! Gue kira gedung sekolah sudah kosong sore-sorebegini. Lagi apa disini?” Jawabku heran. “Gue lagi... YA AMPUN, RI! Lo kok bisa luka gini, sih?! Terus... Kakak lo kenapa?” Daniar kontan kaget melihat keadaan kami yang parah. “Buruan gue bantuin mapah kakak lo ke UKS. Tangan kiri lo juga musti diobatin sekalian!”Daniar segera membantuku memapah kakak tanpa dikomando.“Makasih, Dan.” Hanya itu yang dapat kukatakan padanya saat itu.
Begitu sampai, perawat –perawat di UKS langsung membawa kami ke gawat darurat rumah sakit saat itu juga. Tanganku harussegera dijahit di ruang operasi. Awalnya aku enggan pergi ke ruang operasi dan berpisah dengan kakak, namun Daniar memaksaku. “Udaaaah! Biar gue aja yang nemenin kakak lo. Pergi sana, tangan lu itu harus cepat dijahit.” Kata Daniar. “Tapi...” “Mau sembuh nggak?” Paksanya, memotong ucapan protesku. Maka aku pergi ke ruang operasi dengan salah satu perawat UKS sekolah dan seorang dokter bedah, meninggalkan kakak dan Daniar dengan perawat lain.
Kakak harus dirawat di rumah sakit selama dua hari karena luka-lukanya yang parah. Terutama bagian ulu hatinya yang tertonjok oleh Jovan. Aku merawatnya seharian, dibantu oleh suster rumah sakit. Mbak Sri menjaga rumah, dan menelepon orangtuaku agar mereka cepat kembali dari Surabaya. Awalnya aku takut dimarahi orangtuaku karena kejadian ini, namun dugaanku ternyata salah besar. Mama dan papa langsung memeluk kami begitu melihat kami baik-baik saja.
“Kamu nggak apa-apa, Richard? Rian?” Tanya Mama khawatir sambil mengecup kening kakakku. “Nggak apa-apa kok, ma. Kan ada kakak.” Jawabku, sambil mengedip pada kakak. “Kan ada Rian.” Kakak membalasku. “Ah, kan yang penting kalian baik-baik saja. Papa punya sesuatu nih buat kalian.” Papa menyerahkan sekotak besar pizza. “HOREEE!!!” Seruku, menyerbu makanan tersebut. “WOI! Jangan diabisin, dong! Bagi-bagi kakak juga!” Kakak langsung teriak-teriak, berusaha menggapai  kotak pizza itu dari tanganku. “Sshhh! Berisik! Kasihan pasien yang lain!” Mama langsung heboh mengingatkan.
Kami tertawa bersama. Karena melihat mama heboh? Bukan. Tapi karena kami bisa berkumpul dan berbagi bersama, seperti dulu lagi. Dalam hatiku, aku tidak akan dapat menyangkal betapa berharganya seorang ‘kak Richard’ untukku. Ia kakakku, dan aku menyayanginya. Aku akan selalu bersyukur memiliki kakak yang baik seperti dia. Aku berjanji tidak akan mengecewakannya lagi, dan Kuharap pertengkaran seperti ini tidak akan terulang kembali.
~THE END~

Jumat, 10 Februari 2012

Seorang Profesor dan Seorang Nelayan - Cerita Moral Fiktif

Makasih banyak buat mama yang udah nunjukin cerita ini dari BBnya,
sehingga bisa aku gubah dan aku ceritakan ulang di sini.
Maaf kalau ada bagian yang kurang sesuai.
Semoga kalian suka...

Alkisah...
Ada seorang profesor yang sedang menaiki kapal bersama seorang nelayan. Niatnya, ia hendak menemani nelayan ini mencari ikan sekaligus mempelajari kehidupan si nelayan ini. Profesor pun mengajak si nelayan bicara saat kapal sedang berlayar ke tengah lautan.
Katanya, “Pak nelayan, apakah anda bisa pelajaran TIK (Telekomunikasi dan Informasi)?”
Si nelayan menggeleng sambil terus mengendalikan perahu. Jawabnya, “Tidak bisa. Disini tidak ada listrik. Bagaimana mau belajar komputer...?”
“ Waduh!” Profesor itu rupanya terperanjat. “Kalau anda tidak bisa menguasai komputer, itu sama saja dengan kehilangan seperempat hidup anda! Karena komputer dan internet itu adalah jalan kita untuk mengenal dunia, agar tidak terisolasi dari masyarakat luar.” Jelas sang Profesor.
Nelayan itu rupanya tidak peduli. Ia terus saja berkonsentrasi mengendalikan perahu.
Profesor pun ingin tahu lebih, maka ia bertanya lagi pada si nelayan. Katanya, “Pak, apakah bapak bisa matematika?”
Nelayan pun dengan bingung mengangkat kepalanya menatap profesor, dan bertanya balik, “Apa itu matematika, Prof? Jangan bilang yang ada ‘mati-mati’nya, Profesor! Pamali, tahu, jika sedang berlayar seperti ini.”
Profesor pun menunduk dan menggelengkan kepala. Kesal juga ia rupanya.
“Matematika itu berhitung!” Jelas sang Profesor, berusaha sabar. “Kalau kamu tidak bisa matematika, kamu bisa ditipu orang! Dengan tidak bisa matematika, saya jamin kamu telah kehilangan setengah dari hidupmu, karena hidup ini sebagian besar bergantung pada ilmu berhitung.”
Nelayan hanya cengengesan. “Hehehe, maaf prof. Jangan marah begitu, dong. Saya memang benar-benar tidak tahu matematika. Tapi saya bisa menghitung ikan, kok. Jangan salah.”
Profesor hendak menghentakkan kakinya karena kesal, ketika ombak yang cukup keras menerpa kapal itu. Kapal pun bergoyang dengan kuat, sehingga Profesor ketakutan.
“Aduh, Aduh!” Jeritnya. “Kalau sampai kapal ini terbalik, bagaimana jadinya! Aku takut tenggelam.” Keluh Profesor, sambil berpegangan erat-erat pada pinggir kapal.
“Prof,” Si nelayan berkata, “Saya bukannya mau balas menggurui. Tapi lihat saja. Tidak bisa TIK, berarti kehilangan seperempat hidup. Tidak bisa berhitung, berarti kehilangan setengah hidup. Lha, kalau anda tidak bisa berenang, anda bisa kehilangan seluruh hidup anda! Hehehe...”
Profesor yang ketakutan itu hanya mengangguk-angguk, menyadari kebenaran kata-kata nelayan sambil terus berpegangan pada kapal lantaran ketakutan...

Jumat, 20 Januari 2012

Puisi tentang Sahabat (Musikalisasi Individual - Musik)

Terima kasih untuk Pak Lius, guru musikku,
yang telah memperkenalkan seluruh anak didiknya di angkatanku kepada puisi ini.
Maaf kalau waktu itu kami belum maksimal mencipta karya musik kami.
Dan tentu saja, untuk teman-temanku semuanya,
yang telah menggubah dua bait puisi sederhana menjadi lagu yang amat indah dan bermakna
Aku hanya memasukkan satu puisi karena aku hanya berkonsentrasi untuk memusikalisasikan satu puisi saja
Maafkan aku karena melupakan nama pengarang puisi
Waktu itu aku menyalinnya langsung dari papan tulis ke otakku.

Miracle of Friendship -

There is a miracle called friendship
that dwells within our heart
and you don't know how it happens
or when it even starts

But the happiness it brings you
always gives a special lift
and you'll realize that friendship
is God's most precious gift

Selasa, 17 Januari 2012

Dunia Imajinasi kak Irena Tjiunata ~ Online Addicted!

Hei, apakah kamu suka online?

Di buku Online Addicted! karya kak Irena Tjiunata, diceritakan tentang anak SMA yang suka sekali online, saking sukanya sampai menjerumus ke arah addicted alias kecanduan!
Sebenarnya Icha anak baik-baik. Tetapi karena keseringan online, dia jadi terlalu sibuk dengan dunianya sendiri. Lebih tepatnya dunia maya. Sampai nggak bikin PR, nggak ikut ulangan, ninggalin omanya karena HP rusak... Ya ampun! Banyak dan keterlaluan deh, pokoknya. Peringkatnya di kelas sampai turun, lho!

Tapi namanya juga kan manusia, bisa belajar dari kesalahan. Nah, Icha juga belajar dari kesalahannya kok, yaitu keseringan online. Dia mulai mengurangi porsi onlinenya dan konsentrasi belajar. Nggak gampang loh buat bikin si Icha ini sadar kalo dia udah kebanyakan online. Tapi akhirnya Icha kok bisa sadar, ya, akan tingkahnya yang salah?
Hohohooo... Baca sendiri dong!

Buku menarik ini dipoles dengan kata-kata indah dari kak Irena Tjiunata, sang psikolog yang word-smart. Gaya bahasanya amat 'meremaja' dan pas banget buat anak-anak muda yang (katanya) suka sekali online. Tidak seperti novel biasa yang 'ecek-ecek' tentang cintaaaaa melulu, novel ini membawa pesan moral yang cukup dalam.

OKelah, ngobrolnya cukup sampai sini.
Silakan kalian coba baca-baca, ya, bukunya! :)

Senin, 19 Desember 2011

Cerpen - Jawaban Sebuah Mimpi

Untuk Nixie,
yang memintaku membuat karya ini dan memintaku menamai tokoh utamanya Isabella
Maaf karena aku menggantinya manjadi 'Bella' saja. :)
dan Tentu saja teman-temanku, Bella dan Jason,
Terutama Veje,
Maaf karena aku meminjam nama kalian tanpa izin untuk dimasukkan ke dalam karyaku
Semoga kalian semua menyukainya.


JAWABAN SEBUAH MIMPI
Inilah Saatnya...
Aku melangkah ke panggung rendah itu.. Kupandangi kursi penonton yang padat satu per satu. Tetapi... Ah, benar. Ia tidak ada disana.
Bella menarik nafas sejenak sebelum memposisikan jari-jarinya di atas tuts piano. Inilah konser perdananya... dan mungkin yang terakhir kali baginya. Usia dua puluh satu tahun sudah merupakan mukjizat bagi penderita kelainan jantung seperti dirinya. Dan dalam momen istimewa ini, dari caranya memerhatikan bangku penonton dengan saksama, jelas ia sedang menunggu sesuatu. Atau mungkin seseorang...?
Nada-nada pertama mengalun dengan indah. Jemari Bella sudah mulai menari di atas tuts dengan gemulai. Meskipun matanya menatap lurus ke arah partitur, dan sesekali ke arah jari-jarinya, tetapi tiap kali ada kesempatan, Bella selalu menatap bangku penonton. Rupanya ia benar-benar mengharapkan seseorang itu tiba, seorang pria yang benar-benar berarti baginya. Bella memejamkan mata, semakin meresapi lagu yang ia mainkan seraya mengingat pertemuannya dengan pria itu.
...........
Malam yang cerah itu, dengan bulan purnama membulat sempurna, merupakan malam yang amat tepat bagi mereka untuk berbagi waktu bersama. Pria itu mengajak Bella untuk duduk di bangku taman yang berpenerangan remang, menikmati cahaya bulan dalam kegelapan.
 Bella menggenggam tangan pria itu, seolah tidak ingin melepaskannya lagi.
“Kau tahu betapa usiaku semakin singkat.” Bella memulai. Tetapi pria itu menaruh jarinya tepat di depan bibir Bella, menghentikan bicaranya.
“Jangan kau bahas tentang usiamu lagi. Kita akan selalu bersama, dan kau tahu itu.” Pria itu mengeratkan genggamannya pada tangan Bella. “Aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi begitu saja.”
Bella tersenyum, dan menyandarkan kepalanya pada bahu pria itu. “Besok, aku akan mengikuti konser piano itu, sesuai yang kausarankan. Mereka menerimaku dalam audisi. Akankah kau ada di sana, menontonku? Aku tahu kau memiliki pekerjaan dan berbagai kesibukan lainnya, tapi,-”
Pria itu melepas genggamannya dan merangkul Bella dalam satu dekapan hangat, menghentikan kata-kata yang hendak terucapkan oleh Bella. Tangannya yang satu lagi meraih genggaman yang sempat ia lepaskan. “Tentu saja aku akan datang. Mainkan lagu terbaikmu untukku. Aku akan menjadi orang pertama yang berdiri dan bertepuk tangan untukmu. Aku janji.”
Bella mendengarkan dengan saksama semua suku katanya, cara pria itu mengucapkannya padanya, dan yang paling penting, makna dari apa yang diucapkan kepadanya. Ia memandang bulan yang begitu bulat di langit untuk kesekian kalinya, benar-benar menikmati saat-saat bersama pria itu, yang tidak selalu bisa didapatkannya.
“Kau tidak perlu mengkhawatirkan hari esok, Bella. Aku akan datang. Percayalah.”
“Baiklah. Kau tahu aku selalu percaya padamu. Tepati janjimu, Jason...”

Jason memandang lurus ke arah Bella, megelus wajahnya dan menyibak rambut yang menutupi wajah kekasihnya itu. Bella balas menatapnya, tepat ke dalam mata hijaunya yang jernih. Langit malam seakan menambah pesona keduanya.

"Kau dapat memegang kata-kataku." Setelah mengucapkannya, Jason mendekap Bella erat-erat dan mengunci bibirnya dalam satu ciuman hangat, yang menjadi bukti dari janjinya kepada kekasihnya.
............
Lagu ‘Endless Love’ klasik yang dimainkan Bella sudah memasuki refrain. Lagu singkat itu terus mengalun dari piano, seiring Bella menekankan jarinya di atas alat musik itu. Waktu terus berpacu, tetapi pria bernama Jason itu tak kunjung tiba. Bella mulai merasa gelisah, jemarinya gemetaran. ‘Bagaimana jika Jason melupakannya?’ Batinnya, tidak berani memikirkan jawabannya.
Bait kedua pun selesai. Bella merasakan dadanya sesak. Ia mulai menangis sedih. Ternyata Jason benar-benar melupakan konsernya. Mungkin ia terlalu sibuk dengan pekerjaan barunya. Suara tangisnya begitu perlahan dan pilu, teredam dan bercampur menjadi satu dengan suara piano yang lembut. Lagu ini akan selesai sebentar lagi. Begitu juga dengan penantiannya. Akankah Jason datang, memberinya standing ovation untuk penampilan perdananya?
Saat sedang mengulang refrain terakhir, Bella tidak tahan lagi. Dadanya sangat sakit. Tetapi ia tetap memaksakan diri untuk bermain hingga akhir. Hingga akhirnya ia menemukan jawabannya, jawaban atas kedatangan Jason. Nada-nada terakhir pun mengalun, tetap indah dan murni. Tidak ada yang tahu bahwa Bella sedang berjuang mempertahankan nada-nada terakhir itu. Berkeras tidak ingin selesai sampai Jason tiba di konsernya.
“Jason... Jason...” Bella mengulang nama itu berkali-kali di tengah perjuangannya. Sepertinya lagi-lagi jantungnya mengalami komplikasi. Komplikasi yang parah. Tetapi Bella tidak ingin menyerah, ia ingin terus bertahan. Ia ingin melihat sendiri jawaban itu. Kedatangan Jason...
Akhir lagu pun mengalun, dimainkan dengan sempurna oleh Bella dan jari-jarinya yang gemetaran. Begitu Bella mengangkat jarinya dari piano, pertanda lagu telah selesai, saat itu juga ia roboh ke lantai. Terdengar samar-samar suara tepuk tangan, dan dilihatnya Jason berada di hadapannya. Seluruh penonton mengikuti Jason bertepuk tangan.
“Kau datang...” Bella memegangi kerah kemeja Jason kuat-kuat, seolah tidak ingin melepaskannya. Jason baru saja mengangkat wajah Bella, hendak mengangkat tubuhnya, ketika disadari pegangan Bella mengendur. Nafas Bella mulai menjadi berat, dan matanya tertutup perlahan-lahan...
Ya, Bella telah mendapatkan jawabannya. Jason telah datang untuknya. Dan kini, ia bisa tertidur dengan tenang dalam dekapan kekasihnya untuk selamanya.