Selasa, 04 Oktober 2011

Repost dari Facebook

 
repost:
My mom only had one eye.

I hated her... She was such an embarrassment. She cooked for students and teachers to support the family. There was this one day during elementary school where my mom came to say hello to me. I was so embarrassed. How could you do this to me? I ignored her, threw her a hateful look and ran out.

... ... The next day at school one of my classmates said. ......"EEEE, your mom only has one eye!" I wanted to bury myself. I also wanted my mom to just disappear. So I confronted her that day saying, "If you are going to make me a laughing stock, why don't you just die?!" My mom did not respond... I didn't even stop to think for a second about what I had said, because I was full of anger. I was oblivious to her feelings. I wanted to be out of that house, and have nothin to do with her.

So I studied really hard, got a chance to go Singapore to study. Then I got married, I bought a house of my own. I had kids of my own. I was happy with my life, my kids and my comfort. Then one day my mother came to visit me. She hadn't seen me in years and she didn't even meet meet her grandchild ren.

When she stood by the door, my children laughed at her, and I yelled at her for coming over uninvited. I screamed at her, "How dare you come to my house and scare my children!" "Get out of here! Now!!!" And to this, my mother quietly answered, "Oh, I'm so sorry. I may have gotten the wrong address," and she disappeared out of sight.

One day, a letter regarding a school reunion came to my house in Singapore. So I lied to my wife that I was going on a business trip. After that reunion, I went to the old shack which was my childhood home out of curiosity. My neighbors said she passed away. I did not shed a single tear. They handed me a letter that she wanted me to have:

My dearest son, I think of you all the time. I'm sorry that I came to Singapore and scared your children. I was so glad when I heard you are coming for the reunion. But I may not be able to even get out of bed to see you. I'm sorry that I was a constant embarrassment to you when you were growing up. You see.... When you were little, you got into an accident , and lost your eye. So I gave you mine. I was so proud of my son seeing a whole new world for me, in my place, with that eye.
With my love to you, Your mother

Thanks to,
@Edwin Hartono Limbri who posted this cool story on his status.

Sabtu, 10 September 2011

Cerbung - Be Yourself, Kak! ~ Part 2

BE-YOURSELF, KAK! ~
Dio menggeleng setelah mencampakkan Reyhan begitu saja. “Nihil, Chard. Saku bajunya kosong.” Katanya. “Aku beneran nggak punya uang, kak.” Reyhan mulai berani. Kakakku memperhatikannya dengan tajam. “Hajar aja dia.” “JANGAN!” teriakanku memotong ucapan kakak. “RIAN?!” Kakak dan Reyhan mengucapkan namaku bersamaan. “Rey, pergi buruan. Sebelum lo diapa-apain. Dan lo,” Aku menatap marah kearah kakak. “Gue mau ngomong empat mata sama lo.” Kataku dingin, dengan tangan masih mengepal. Reyhan langsung lari ke kelas, sedangkan kakak membubarkan teman-temannya sehingga kita dapat bicara berdua saja.
“Ada apa?” Tanya kakak, seakan tidak ada kejadian apa-apa sebelumnya.
“Ada apa? ADA APA?! Kayaknya gue deh yang harus nanya gitu sama lo!”
“Ri, kakak bisa jelasin...”
“Jelasin apa lagi, hah? Kenapa lo bully Reyhan? Gak perlu. Semuanya udah jelas kan sekarang?!”
“Rian...”
“Dasar bullshit lo! Bego bener gue selama ini percaya sama lo! Ternyata lo itu emang keterlaluan! Gue tau lo ketua OSIS. Tapi apakah ketua OSIS akan tampak terpuji, gitu, kalo kerjaannya ngebully temen-temen gue?! NGGAK KAN?!”
“Ri, kakak melakukan ini sesuai kemauan geng, bukan kemauan kakak sendiri!”
“Kemauan siapapun itu, lo bisa bedain yang bener ama yang nggak!”
“Oke! Semua salah kakak.”
“Memang itu salah lo!”
“Terus apa mau kamu?”
“Gue nggak mau ngakuin lo sebagai kakak gue selama tindakan lo masih begitu!”
Kakak terlihat terperanjat sekali. Aku sendiri juga heran, mengapa aku bisa melontarkan kata-kata sekejam itu. Namun wajahku tidak berubah ekspresi, menandakan aku tetap pada keputusanku. PLAK!!! Kakak menamparku dengan keras, membuatku terhuyung ke belakang. Wajahnya menyiratkan rasa sakit hati yang dalam. Jelas ia marah besar karena kalimat yang kukatakan barusan.
“BAIK! Terserah lo! Gue ikutin aja apa mau lo. Gue juga nggak nyangka, kalo adik gue ini emang kurang ajar!” Katanya, setengah berteriak.
Aku meninggalkan kakak dan menuju ke kantin secepat mungkin. Aku malas berdebat lagi dengannya. Lagipula, kelihatannya kakak juga tidak peduli lagi denganku, si ‘adik-kurang-ajar’. “Hei, Rian! Sini!” Toni langsung memanggilku begitu aku tiba di kantin. “Hai, man! Hai Niar, Jani.” Aku menyapa teman-temanku semuanya dan langsung duduk disamping Daniar. “Lo dari mana aja, Ri? Kok bisa sampe telat banget gini?” Tanya Jani, yang rupanya tidak sabar menunggu kehadiranku. “Kita udah belajar duluan tadi, sampe bagian sini. Nggak apa-apa, kan?” Toni nimbrung. “Nggak, nggak apa-apa. Sori guys, tadi gue ada urusan sama kakak gue.” Aku mengucapkan kalimat terakhir dengan sedikit nada kesal. “Pipi lo... Lo abis ditampar ya?” Daniar rupanya memerhatikan pipi kiriku yang tadi ditampar kakak. Tanpa sadar aku merabanya. “Nggak apa-apa. Udah, lanjutin belajarnya yuk.” Aku mencoba mengalihkan topik agar teman-temanku itu tidak mengkhawatirkanku.
“Serius, Ri. Kalau lo kenapa-napa, mending ke UKS aja sana. Lo kok bisa sampe kena tampar gitu sih? Siapa yang nampar lo?” Toni rupanya benar-benar cemas dengan keadaanku. “Mau belajar nggak nih?! Kok malah jadi arisan, sih?” Aku keceplosan membentak Toni. “Yee... Kok malah marah? Gue khawatir, tau. Lo ada masalah apa sama kakak lo?” Toni menyabarkan diri, sadar akan sikapku, yang susah sekali meredakan emosi setelah dipanas-panaskan. “Bukan urusan lo. Udah ah, bubar! Lagian istirahat juga udah mau habis. Gue ke kelas dulu.” Dengan ketus aku mengakhiri pertemuan itu, dan pergi begitu saja, meninggalkan teman-temanku yang bengong menatap kepergianku.
Beberapa jam kemudian...
KRIIINGGG... Belpulang membuyarkan lamunanku. Aku menatap buku catatanku dengan pandangan pasrah. Lembar buku catatan untuk pelajaran sejarah tadi masih kosong melompong, tanpa tulisan sehuruf pun. Hanya saja pada satu sudutnya kugambari dengan gambar Ninja Hatori, satu-satunya coretan yang mengisi halaman tersebut. Pikiranku memang sedang kacau hari ini. Teguran guruku juga tidak aku perhatikan. Aku tidak bisa berhenti memikirkan pertengkaranku dengan kakak.Ini adalah pertengkaran serius kami yang ketiga, dan yang paling serius. Aku masih belum bisa melupakan pertengkaran kami yang terakhir. Selama satu bulan penuh kami tidak bertegur sapa. Bicara kalau hanya diperlukan saja. Bagaimana dengan perang dingin kali ini?
 “Rian. Pulang.” Kakak memanggilku seperti biasa dari balik pintu kelas. Bedanya, kali ini ia memanggilku dengan nada dingin. “Toni, gue pulang bareng lu aja, ya. Rumah kita kan deket sama sekolah.” Aku meminta pada Toni, mengabaikan kakakku seolah-olah ia tidak ada disana dan yang bicara itu hanya desiran angin. Kakak segera menatap tajam padaku. “Ayolah, Ton.” Bujukku. Toni melirik ragu kearah kakakku sekilas, lalu megangguk meniyakan. Maka sejak saat itu aku pulang sekolah dengan Toni selama sebulan penuh. Sebenarnya aku lebih suka pulang dengan kakak, namun mengingat pertengkaranku dengannya aku selalu naik darah.
Perubahan ini tentu saja mengherankan seluruh orang rumah, dan juga Toni. Ia tahu persis bagaimana kebiasaanku terhadap kakakku. Namun itu semua berubah tiba-tiba. Mau tidak mau aku menjelaskan semuanya pada Toni, serta orangtuaku, tentang apa yang terjadi. Aku dan kakakku langsung dimarahi habis-habisan oleh mama dan papa. Sayangnya, itu tidak membantu kami untuk berbaikan. Memang, kami tidak lagi berperang kata-kata seperti waktu itu, namun kami melakukan aksi perang dingin. Keadaan seperti ini kadang menyiksa batinku. Aku ingin kembali akur dengan kakakku seperti dulu, namun gengsi dan kenangan akan pertengkaran kami selalu berhasil mengurungkan niatku.
Tepat sebulan setelah pertengkaranku dengan kakak, mama dan papa pergi ke Surabaya selama lima hari untuk merawat tante Sila yang sedang sakit. Aku dan kakakku tidak bisa ikut karena kami tetap harus bersekolah seperti biasa. Tentu saja kami protes, apalagi kami sedang dalam keadaan bertengkar.Namun orangtuaku tetap pada keputusan mereka. Mereka tidak memperbolehkan salah satupun dari kami pergi ke Surabaya bersama mereka.
Dengan perginya orangtua, kami mulai sering meributkan hal-hal kecil. Misalnya, aku hendak menonton DVD, tetapi kakak ingin menggunakan layar TVnya untuk bermain komputer. maka kamipun saling membentak dan tidak mau mengalah sampai Mbak Sri, pembantu di rumah kami, melerai pertengkaran itu. Malah kadang, kami mulai main fisik. Makin kewalahanlah Mbak Sri, karena bagaimanapun juga ia pasti tidak sanggup menghentikan kami tanpa ikut terkena pukulan maut kami. Aku mulai bertanya-tanya, kapankah keadaan seperti ini akan berakhir? Sebenarnya aku sudah muak dengan suasana perang dingin ini.Tapi aku terlalu kesal untuk mengalah dan meminta maaf. Kan kakakku yang salah pertama kali. Mengapa harus aku yang meminta maaf?
                                                           O_o
Aku dan Toni pulang bersama seperti yang selalu kami lakukan sejak aku bertengkar dengan kakak. Namun hari ini kami memutuskan untuk pulang lebih lambat. Satu hal yang aku tahu, kakak selalu pulang lebih lama daripada aku sejak kami tidak pulang bersama. Aku tidak tahu alasannya, namun seharusnya ia sudah pulang sekarang. Hari ini ia ada les, sehingga tidak mungkin kakak masih menungguku pulang. Kami membeli es teh manis dan duduk di taman kecil yang sangat rimbun. Tempat ini tersembunyi sekali, sengaja kupilih agar kakak tidak dapat menggangguku. Namun, tak disangka, sepuluh menit setelah kami bersantai di tempat itu, sekelompok anak kelas tiga SMP datang. Mereka semuanya laki-laki, dan berperawakan preman. Sangar, kuat, dan kekar.
“MINGGIR LO! Ini pangkalan kita!” kata seorang anak yang kelihatannya paling kuat mengancam kami. “Lo denger kata bos gue ga? Pergi sana!” Seorang anak yang berkepala botak mendukung ‘bos’nya tadi. “Rian... Pergi yuk...” Toni berbisik padaku, ketakutan. “Apaan sih?! Kita tiba disini duluan. Terserah kita dong mau pergi apa nggak.” Aku membela diri, tidak mengindahkan ketakutan Toni. “Mo ngelawan lo?! Waahh, Bos! Rupanya ada anak kurang ajar yang berani nantang kita disini.” Seorang anak yang bertampang sengak menunjuk wajahku. “Pasti lo anak baru, deh. Udah, pergi aja.” Seorang anak yang memakai jaket berwarna biru tua meremehkan kami. Aku diam tak bergeming. “Coba usir gue.” Tantangku.

BERSAMBUNG...

Selasa, 23 Agustus 2011

Cuplikan Scene Roman Picisan - Dongeng

Malam ini Sevira sedang berjalan-jalan di hutan Aridazai, di luar kerajaannya. Seharian ia sibuk membantu adik-adik kembarnya, Ardily dan Wardhazka, untuk menyambut ulang tahun mereka yang ketujuh belas. Kakaknya, Pangeran Darthlandaz sang putera mahkota,  tidak bisa membantu mereka karena ia sedang sibuk mempersiapkan diri untuk upacara penobatannya sebagai raja tiga bulan lagi.
Keberadaan Sevira di hutan ini tidak diketahui siapapun malam ini, karena ia menyelinap pergi dari kamarnya lewat lorong rahasia yang kata kuncinya hanya diketahui olehnya. Rupanya malam ini bulan sedang tidak bersinar, sehingga keadaan di dalam hutan menjadi gelap dan nyaris pekat. Sevira tidak akan mampu melihat apa-apa kalau bukan karena matanya yang tajam.
Kresk, kresk!
‘Bunyi apa itu?’ Sevira langsung waspada.  Suara ini sepertinya berasal dari balik pepohonan cendana di depannya. Ia berjalan mundur perlahan-lahan. Tangannya meraba-raba pinggang, menyentuh pisau yang selalu dibawanya.
“RROOOOAAARRHHH!!!!”
Sevira terloncat karena kaget. Di hadapannya kini berdiri monster hutan setinggi tiga meter. Sungguh, Sevira tidak menyangka akan bertemu monster seperti ini. Kalau saja ia membawa pedang panjang alih-alih pisau, pasti ia akan menebas kepala monster ini tanpa ragu.
BUM, BUM, BUM! Monster tersebut melangkah panjang-panjang untuk mengangkat Sevira dari tanah. Segera Sevira berlari ke arah yang berlawanan. Namun secepat apapun Sevira berlari, apa daya, monster tersebut jauh lebih cepat karena kaki-kakinya yang panjang. Pinggang Sevira pun diraihnya, tak bahwa peduli yang digenggam meronta-ronta sekuat tenaga. Sevira tidak berani berteriak, karena ia takut malah mendatangkan monster penghuni hutan yang lain. Nanti bisa-bisa ia semakin tercabik-cabik karena banyaknya monster yang datang...
“Lepaskan dia!” seru sebuah suara dengan lantang dari belakang si monster. Sevira malah merasakan bahwa genggaman di tubuhnya makin erat alih-alih dikendurkan.
CTASS! “RRROOOAAAARRRGGHH..” Raung si monster kesakitan. Rupanya sebuah panah menancap tepat di lehernya. Sevira dapat merasakan pegangan monster itu mengendur. Tetapi monster itu rupanya berkeras untuk tidak melepaskan Sevira.
Dengan susah payah Sevira membebaskan tangannya. Ia melemparkan pisaunya ke leher bagian depan monster itu. ‘Ah! Meleset!’ rutuk Sevira. Pisaunya malah mengenai dada si monster yang berkulit tebal.
 CTASS! CTASS! Dua buah panah kembali melayang ke titik vital pada tubuh si monster, menewaskanya seketika. Sevira memejamkan matanya dengan takut saat terjatuh dari ketinggian dua meter setengah. DUK! Kepalanya membentur akar pohon saat terjatuh sehingga ia pun jatuh pingsan.
O_o
Akhirnya, Sevira sadar begitu pagi menjelang. Belum sempat Sevira bergerak, pedang panjang yang runcing sudah mengarah pada lehernya. Sevira hanya diam sambil berusaha memfokuskan kembali pandangannya.
“Rupanya kau pingsan cukup lama.” Kata sosok itu.
“Terima kasih sudah membantuku.” Entah mengapa, Sevira merasa malu saat mengucapkan kata-kata itu.
“Seharusnya aku tidak boleh membantumu.” Kata sosok itu lagi.
“Mengapa?” Tanya Sevira polos
“Karena kerajaan kita.” Sevira sesaat tidak mengerti apa yang dikatakan pemuda di hadapannya. Namun setelah meneliti pakaian yang dikenakan pemuda itu, tahulah Sevira bahwa ia baru saja ditolong oleh seseorang dari kerajaan Dralavad, musuh utama kerajaannya.
“Lalu mengapa kau masih menolongku?” Tanya Sevira. Hatinya diliputi rasa hangat yang aneh, mungkin rasa hormat dan kagum mengingat pemuda ini telah mengingkari hukum kerajaannya demi menyelamatkan dirinya.
“Hmm... Coba kau pikir. Jika ada gadis yang diserang monster hutan yang kelaparan pada tengah malam, apa kau akan membiarkannya mati begitu saja?”
“Tapi itu melanggar hukum kerajaanmu, kan?”
“Hutan ini bukan milik kerajaan manapun. Disini tidak ada makhluk yang terikat oleh hukum.”
Pemuda tersebut menarik pedangnya dari leher Sevira. Sevira pun mendesah, lega.
“Berdirilah. Kau haus?” Pemuda tersebu mengulurkan tangannya dan membantu Sevira bangkit berdiri.
“Ya, aku haus sekali. Hmm, kita kan belum berkenalan. Aku Sevira. Siapa namamu?”
“Aldrich.” Deg. Sevira mematung. Pangeran Aldrich. Ia ingat sekali nama itu.
Dahulu, di kerajaan Dralavad, ada seorang raja bernama Aldrich. Raja inilah yang dikatakan pernah menculik puteri Shavilya, neneknya, untuk dijadikan isterinya. Rakyat kerajaan Aryalaz, kerajaannya, tidak terima dipermalukan seperti itu. Inilah asal muasal permusuhan kedua kerajaan.
Dan sekarang, Sevira sedang berhadapan dengan cucu kesayangan sang raja kejam itu sendiri.
‘Aku tidak sekejam itu, Putri Sevira,’
“Apa katamu tadi?” Tanya Sevira bingung. Bagaimana ia dapat mendengar suara Aldrich dalam kepalanya?
“Aku tidak sekejam itu. Begitu pula kakekku. Ini semua hanya kesalahpahaman belaka.” Kata Aldrich dingin. “Sudahlah, mari, kuantar kau ke sungai.”
“Sepertinya kau sering datang ke hutan ini.” ujar Sevira sambil tersenyum.
“Begitulah.”
“Dari mana kau tahu aku seorang putri?”
“Di kerajaanmu hanya ada satu Sevira, yaitu sang putri.”
Sevira diam saja. Di hatinya ia sedang mencemaskan masalah lain. ‘Bagaimana jika pasukan kakak menemukan pangeran Aldrich denganku disini?’
“Hahahaa, Putri,”
“Panggil saja aku Sevira, pangeran.” Potong Sevira otomatis.
“Baiklah, Sevira, mereka tidak tahu akan berhadapan dengan siapa.”
“Tapi...” Aldrich meletakkan jari telunjuknya di depan bibir Sevira, mengisyaratkannya untuk diam.
“Kalau kau sedang dirundung masalah, aku akan selalu ada disini. Datanglah ke tempat ini setiap kali kau ingin bertemu denganku. Nah, sekarang aku harus pergi...”
“Bagaimana aku tahu kau akan ada disini saat aku membutuhkanmu?”
“Ini,” Aldrich memberikan sebuah peluit kecil pada Sevira. “Tiuplah saat kau membutuhkan aku.”
.................

Senin, 22 Agustus 2011

Cerita Mini - Gara-gara Sumpah Serapah

Gara-Gara Sumpah Serapah
              Di kantin, saat istirahat, seperti biasa Chira turun ke kantin. Ia berencana akan membeli bakso pak Pri di kios paling ujung, karena biasanya antrean disana tidak seramai di kios-kios lain.
“Neng kriting, mau beli apa, neng?” sapa pak Pri ramah seperti biasa. Chira mendengus. Ia paling sebal dipanggil Kriting. Memang rambutnya agak berombak, tetapi, kata kak Dhani, so what gituloh?
Chira mengucap pesanannya dengan dongkol. Sejak kapan sih seisi kantin memanggilnya dengan sebutan Kriting? Bahkan pak Pri yang baik pun ikut-ikutan.
              “Woi, si kriting dateng!” sahut Ipank, yang paling ceria diantara seluruh anak yang berkumpul di meja panjang.
              “Ting, kok kamu nggak pesen mi goreng? Biar seragam gitu, sama-sama kriting!” ledek Saskia, yang paling kompak dengan Ipank kalau so’al meledek Chira.
“Kurang ajar kalian! Kusumpahin biar kalian tersedak!” Dengan kesal Chira berseru, meski niatnya hanya pura-pura marah.
Tidak sampai sedetik kemudian, Ipank dan Saskia tersedak hebat. Keduanya terbatuk-batuk, tapi diluar itu mereka baik-baik saja. Seluruh anak yang mengelilingi meja panjang di kantin pun menatap Chira takut-takut. Bahkan ada yang segera pindah meja, menjauh dari Chira.
“Pank, Sas, kalian nggak apa-apa kan? A-aku nggak bermaksud nyumpahin kalian betulan kok...” Segera setelah Chira berkata begitu, Ipank dan Saskia mulai pulih. Keduanya tidak lagi batuk-batuk.
“Waaaa ! Dukuuunn!!” Teriak Ipank histeris. Saskia pun ikut menjauhi Chira, karena kejadian barusan. Wah, kapok deh, bersumpah-serapah! Lain kali, kalau mau bicara, harus dipikir dulu baik-baik...

Minggu, 21 Agustus 2011

Cerita Non-Rekayasa nyasar di Dunia Imajinasi Saya #1

Ceritanya gue lagi abis makan pempek di acara buka puasa bareng lingkungan gue. Mau nyari minum nih. Ahh, gue liat ada botol coca-cola gede nganggur di meja ujung. Langsung aja gue tuang di gelas gue yang masih kosong. Begitu tuh gelas penuh, ada yang tereak manggil nama gue. "Jen, Jen!!!" sahut tuh orang, yang ternyata temen koor lingkungan gue. Gue pasang tampang bingung.

"Weh, itu bukan coca cola, cuy! Itu KUAH PEMPEK tau!" Katanya sambil ketawa. Blaaaah!!! Untung aja blom gue minum tuh kuah! Dengan tampang tidak bersalah (emang gue ga salah, sih!), gue ikutan ketawa. Disana kebetulan ada banyak mbak-mbak lagi pada makan. Mereka ikutan ngetawain gue dong. Tapi gak pa pa...

Emang dasar anak panjang akal kalo udah gila, gue cemplungin beberapa pempek ke gelas gue. Gue cari air (kali ini gue nemu aqua gelas. hehehe, dijamin aman.) sama sendok, terus gue ubek-ubek itu kuah, dan makan pempek dari gelas itu... Sambil sesekali nenggak air kalo kepedesan.

DASAR GILAA!!! ^^

Senin, 08 Agustus 2011

Cerbung - Be Yourself, Kak!

Be Yourself, KAK!
Kakakku, termasuk anggota geng The BadBoys di SMP tempatnya bersekolah. Main band, merusuh, dan mejahili guru dan teman bukan lagi kegiatan asing baginya. Kakak kadang juga mengajakku untuk ikut melakukan kegiatan semacam itu dengan teman-temannya. Tapi seringkali aku menolaknya. Aku memang kurang menyukai kegiatan BadBoy. Menurutku, kegiatan seperti itu hanyalah pemborosan waktu. Lebih baik aku membaca buku di rumah. Maka dari itu aku jarang bepergian keluar rumah dengan kakak dan teman-temannya.
Aku memang terkenal sebagai anak baik-baik, bahkan mendekati kutu buku di SD tempatku bersekolah. Tapi, sebenarnya, diam-diam aku ikut belajar karate dengan kakakku. Lumayan, untuk olahraga dan latihan bela diri. Aku sekarang sudah menyandang ban merah, dan kakakku setengah tingkat diatasku, yaitu merah strip hitam. Aku cukup bangga dengan hasil jerih payahku berlatih karate, karena selain membentuk fisik yang kuat, karate juga mengajarkanku untuk menjadi lebih berani menjadi diriku sendiri. Aku tidak lagi ketakutan atau mudah marah jika teman-teman mengatai aku kutu buku dan kuper. Memang karena perubahan itu, teman-temanku bertambah. Sekarang mereka lebih bisa menerimaku dan hobiku membaca, dan aku amat sangat senang akan hal itu.
Kakakku pernah berkata bahwa di SMP Bakti Mulia, sekolahnya, kakak-kakak kelas seringkali bersikap seenaknya pada anak kelas satu. Dia bahkan pernah pulang dengan keadaan kotor dan memar di sekujur tubuh. Alasannya, itu karena ia tidak mau menyerahkan uang sakunya pada kakak-kakak kelas kejam itu. Maka dari itu ia mendirikan geng The Bad Boys dengan tujuan membantu melawan kekerasan kakak-kakak kelas yang meraja di sekolahnya.
“Lagipula, kakak harus menjadi Bad Boy biar gaul dan eksis, Ri!” tambahnya.
“Hah! Sekalian aja jadi Barney! Eksis juga, kan? ” ledekku padanya.
Kakakku hanya tersenyum. Tentu saja aku kenal sekali kakak. Dia adalah kakak yang mengajari aku membaca sewaktu aku kecil dulu. Mengajariku bermain basket, catur, dan bersepeda. Yang memakai baju berwarna cerah, dan bukannya  hitam. Menurutnya baju hitam itu suram dan gelap. Kakak juga masih suka membaca majalah bobo dan majalah kreatif, serta novel dan kumpulan cerpen anak-anak. Kami memiliki banyak sekali koleksi buku semacam itu.
“Itu beda, dong, Ri. Masa kegiatan kakak kamu samain sama Barney, sih? Nggak level, tau!” Kakak agak tersinggung.
“Bukan apa-apa, tapi menurut Rian, The Bad Boys tuh kegiatannya agak ekstrem. Katanya tujuan utamanya mau melindungi anak-anak yang lemah, yang suka dibully sama kakak kelas. Tapi, kok kakak sendiri suka merusuh dan menjahili orang lain? Itu kan sama saja menyusahkannya dengan kakak-kakak kelas tadi.” Aku menjelaskan panjang lebar dari balik buku yang sedang kubaca.
“Halah, sok tahu kamu! Merusuh dan iseng itu kan hanya supaya kita dikenal orang lain, Ri. Biar gaul, man!” Kata Kakakku dengan sok keren.
“Ah, kan untuk dikenal bukan berarti harus merusuh. Oya, kakak masih mau terus pakai baju hitam-hitam yang ada di lemari baju kita? Bukannya pernah kakak bilang warna hitam itu suram?” Aku masih terus menyindir kakakku.
“Yah, demi geng, Ri. Kakak juga kurang enak sih, lihatnya. Biar kerenlah sekali-kali gak apa-apa.” Katanya beralasan.
Biar keren. Lagi-lagi biar keren. Aku mendesah.
“Kakak aneh. Terserah, deh.” Aku menyerah dan melanjutkan membaca dengan diam.
Memang, akhir-akhir ini tingkah kakak menjadi agak menyebalkan.
Setelah masuk SMP, dunia kakak seolah terbagi dua. Di rumah, kukenal kakak yang baik dan asyik. Di sekolah, kukenal kakak yang keren dan populer. Kakak yang kurang kusuka, karena itu bukanlah dirinya yang sesungguhnya.Yang kutakutkan sekarang adalah, aku akan masuk SMP yang sama dengan kakak dua hari lagi. DUA HARI LAGI! Aku belum bisa menerima perubahan sikap seperti kakakku. Maksudku, Untuk apa kita mengorbankan kepribadian ASLI kita untuk masuk sebuah geng yang keren?
“Tenang sajalah, Ri. Kakak bantu deh, kalau kamu kesulitan disana.” Begitu kata kakak ketika aku menceritakan keraguanku padanya. “Bantuin apa lagi? Pelajaran?” Tanyaku, masih tidak mengerti. “Bantuin kamu bergaul, maksudnya. Gimana? Udah, jangan takut!” Jelasnya sambil tersenyum geli melihatku kebingungan. “Jadi BadBoy? Gak mau!! Mending Rian dicap sebagai kutu buku daripada jadi BadBoy! Karena itulah sifat Rian yang sebenarnya.” Aku menyindir kakakku. “Ya sudah. Terserah.” Kakak berkata datar sambil berjalan keluar dari ruangan dan meninggalkanku sendirian. Aku memikirkan kembali ucapanku, mengidentifikasi setiap katanya untuk mencari letak kesalahanku. Mengapa kakak marah? Kata-kataku salah ya?
Oya, kakakku ini ketua OSIS, lho. Dia adalah salah satu panitia untuk MOS nanti. Sebenarnya enak punya kakak pintar. Ya seperti kakakku ini. Namun, aku masih saja mengeluhkan sikap kakak. Enak, kalau kakakku itu baik dan menyenangkan. Namun, bila kakakku itu gaul dan sibuk? Entahlah, aku masih belum dapat membayangkannya.
Hari pertama di sekolah, kakak langsung mengajakku ke hall SMP untuk melihat pengumuman pembagian kelas dan denah sekolah. Di koridor kami bertemu dengan kak Farhan, salah satu sahabat kakak, yang hendak pergi ke kelas barunya. “Yo, Chard!” panggilnya. “Hei! Apa kabar, man?” Balas kakakku dengan senyum. Kemudian mereka melakukan tos ala geng mereka. “Eh, Rian! Apa kabar?” Tanya kak Farhan, menatapku dengan pandangan cerianya. “Hai, Kak Farhan.” Aku menyalaminya. “Ternyata kamu masih inget, ya?” Kak Farhan berkata senang. Aku mengangguk. Aku pernah bertemu kak Farhan sekali, saat dia main ke rumah untuk menonton latihan band kakakku.
Sejak mengikuti geng ini, kakak membentuk band sendiri dengan kak Tio dan kak Joseph. Kak Tio ketuanya, karena ia yang paling jago bermusik. Kakakku bermain drum, kak Joseph menjadi vokalis, dan kak Tio menjadi gitaris. Aku suka menonton latihan mereka, maka aku mengenal kak Joseph dan kak Tio. Namun selain mereka, dengan kak Farhan, adalah satu-satunya teman kakak yang kukenal. Kakak baru mengenalkan temannya yang lain padaku hari ini. Nasib teman seangkatanku pun tidak jauh berbeda dariku. Seluruh anak baru mulai saling mengenal setelah MOS.
Teman dekatku adalah Toni. Ia sudah akrab denganku sejak SD. Sebulan setelah semester dua, teman-teman mulai menjauhiku. Namun Toni tetap bersahabat denganku. Aku mendapat jawaban keanehan sikap teman-temanku darinya, yaitu bahwa BadBoy mulai membully teman-teman. Ia melihatnya sendiri, kakakku dan anggota lainnya, termasuk Dio, kakak Daniar, teman sekelasku yang mengalami nasib sama sepertiku. Aku langsung tidak percaya mendengar kelakukan kakakku yang sudah melewati batas itu. Meskipun Toni, sahabatku sendiriyang memberitahuku, aku masih tidak percaya. Masa sih, kakakku membully teman-temannya sendiri? Tapi Toni tidak mungkin bohong padaku. Mungkin aku harus benar-benar melihat sendiri buktinya.
Pada suatu hari, saat istirahat, aku hendak menuju ke kantin untuk menemui Toni, Daniar, dan Anjani, teman-teman seangkatanku. Kami memang berencana belajar bersama hari ini. Di tengah jalan, aku melihat kakakku dan teman-temannya sedang menyudutkan Reyhan, teman sekelasku, ke sudut tangga. Aku langsung berhenti, setengah menganga tidak percaya. Kakakku? Memalak Reyhan?! “Buruan! Mana duit lo?!” Gertak salah satu dari anak BadBoy, memojokkan Reyhan yang ketakutan. “A-aku... Aku nggak punya uang, kak.” Reyhan memelas. Kelihatannya ia takut dipukuli atau apa. “Bohong! Dio, coba periksa sakunya.” Kakak memberi perintah dengan tegas pada temannya yang bernama Dio itu. Dio mengorek saku Reyhan dengan kasar. Sepertinya aku kenal... Hei... Tunggu! Itu kakaknya Daniar! Ya, benar, itu pasti kakak Daniar. Tanganku mengepal semakin erat. Apa maksud dari semua ini?!
BERSAMBUNG....

Alaira Salvarez ~ Hutan Alaira (puisi bahasa Aranch)

En Alaira Salvarez..
Inilah Hutan Alaira

Driand Latharaia Haistha seiya
Dimana bangsa-bangsa tinggal dengan tenang

Salvarez Ariaz foldin
Simfoni hutan mengalun

Aranchais Dalamin saia
Pembatas Negriku Aranchais

Ella tardes Salvarez
Hutan yang indah ini

Sal Ara Nalada Thasis
Akan selalu kita jaga

Darshana kalairen Arad
Dengan segenap kekuatan

Halle Ish Alaira Salvarez
Karena di Hutan Alaira inilah

Alaira Dath-Ganna Dartha
Alaira sang penjaga tinggal